Senin, 04 Juli 2016

Book Review : THE DOOMED CITY by Arkady Strugatsky, Boris Strugatsky



A mysterious story about a surreal city from Russian science-fiction masters the Strugatsky brothers, translated into English for the first time.
Andrei is a Soviet astronomer from the 1950s. He now works as a trash collector, but he no longer lives in the USSR—or in the 1950s. Instead, he lives in an unknown time in the City, a strange place where the sun is extinguished like a lamp each night. The City is bordered on one side by an impossibly high wall and on the other side, by an abyss. Within these confines, troops of baboons appear out of nowhere, and sinister buildings appear and disappear at will—or do they? An inscrutable group called the Mentors has populated the City with people they’ve extracted from 20th-century times and places: Fritz, for example, was a German soldier in World War II, Selma was from 1970s Sweden, and Donald was an American college professor in the ’60s. They’ve all been brought to the City to participate in the Experiment, but no one knows precisely what its goal is. In successive episodes, the book follows Andrei as he’s shifted from job to job: first, he’s a diligent trash collector, then a police investigator, a senior editor of one of the City’s newspapers, a counselor to the president, and, finally, a soldier at war, before he reaches a surprising end. Most of the book’s action, if it can be called that, consists of people sitting around together and talking (and, more often than not, drinking). However, many readers will find it psychologically gripping to puzzle over what the City is and what will become of Andrei, although others may be frustrated by the lack of resolution. In the foreword by fellow Russian author Dmitry Glukhovsky, he points out that Soviet science fiction “transformed into a means for at least hinting at the true state of affairs.” Unfortunately, the story only hints, without ever fully explaining, and readers unversed in Soviet politics may feel as though they are missing out on deeper meanings. That said, it doesn’t detract from what’s otherwise a thought-provoking read.
An intriguing, if somewhat vague, speculative tale.

'Finding Dory' Hattrick, 'The Legend of Tarzan' dan 'The Purge: Election Year' Solid



Finding Dory masih kokoh mempertahankan posisi pertama meski telah tayang selama 2 minggu. Film ini menambahkan $41,9 juta, menjadikan total laba domestiknya $372,2 juta. Tak butuh waktu lama bagi Dory untuk menggeser rekor Finding Nemo ($372,2 juta) dan menjadi film animasi terlaris kelima sepanjang masa. Sementara itu, total laba globalnya adalah $538,2 juta berkat tambahan $34,4 juta dari 40 negara.

Diprediksi flop, The Legend of Tarzan ternyata melewati ekspektasi para pengamat dan tampil cukup kuat dengan $38,1 juta, cukup untuk membuatnya berada di posisi kedua box office. Angka ini mungkin tak begitu besar untuk ukuran film berbujet $180 juta, namun lumayan memuaskan mengingat prediksi awalnya yang cukup rendah. Apalagi didukung dengan respon penonton yang cukup baik (nilai CinemaScore "A-").

Juga tayang di 19 negara, film ini mendapat tambahan $18,8 juta, dimana laba terbesar diperoleh dari Rusia ($3 juta) dan Korea ($4 juta). Total laba globalnya adalah $56,9 juta.

Franchise The Purge tak menunjukkan tanda-tanda melemah, karena instalasi ketiganya The Purge: Election Year juga tampil kuat dengan mengumpulkan pendapatan debut $30,8 juta, hanya beda tipis dari pendahulunya The Purge: Anarchy ($29,8 juta). Film ini mendapat nilai CinemaScore "B+", tertinggi dalam franchisenya.

Nasib baik, sayangnya tak berlaku bagi The BFG. Film terbaru karya Steven Spielberg ini nyatanya hanya mampu memulai debut di posisi keempat dengan perolehan $19,8 juta. Angka ini merupakan salah satu yang terendah bagi Spielberg setelah The Terminal ($19 juta) dan Bridge of Spies ($15,3 juta) namun lebih baik daripada The Adventure of Tintin ($9,7 juta). Paling tidak, penonton cukup puas, terbukti dengan nilai CinemaScore "A-". Dari luar Amerika, film ini diperkirakan memperoleh $3,9 juta membuat total laba globalnya menjadi $23,7 juta.

Di posisi kelima, Independence Day: Resurgence turun 59,8% dan menambahkan $16,5 juta sehingga total laba domestiknya menjadi $72,7 juta. Angka ini baru separuh dari laba domestik Independence Day yang mengumpulkan $135,3 juta dalam 2 minggu 20 tahun yang lalu. Dari luar Amerika, ada tambahan $40,2 juta sehingga total laba globalnya sekarang adalah $312,3 juta.

Ice Age: Collision Course telah tayang terlebih dahulu di 7 negara dengan meraup $20 juta.

The Secret Life of Pets mendapat tambahan $11,9 juta sehingga total laba internasionalnya (tak termasuk di Amerika, karena baru akan tayang minggu depan) adalah $29,6 juta.

Book Review : The Architecture of Love by Ika Natassa




Judul : The Architecture of Love
Penulis : Ika Natassa
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Tebal : 304 halaman
Harga : Rp84.000
Terbit : Cetakan pertama, Mei 2016
ISBN : 978-602-03-2926-0

Blurb:

    “People say that Paris is the city of lovem but for Raia, New York deserves the title more. It's not fall in love with the city like It's almost impossible not to fall in love in the city.”

    New York mungkin berada di urutan teratas daftar kota yang paling banyak dijadikan setting cerita atau film. Di beberapa film Hollywood, mulai dari Nora Ephron's You've Got Mail hingga Martin Scorsese's Taxi Driver, New York bahkan bukan sekedar setting namun tampil sebagai "karakter" yang menghidupkan cerita.

    Ke kota itulah Raia, seorang penulis, mengejar inspirasi setelah sekian lama tidak mampu menggoreskan satu kalimat pun.

    Raia menjadikan setiap sudut New York "kantor"-nya. Berjalan kaki menyusuri Brooklyn sampai Queens, dia mencari sepenggal cerita di setiap jengkalnya, pada orang-orang yang berpapasan dengannya, dalam percakapan yang dia dengar, dalam tatapan yang sedetik dua detik bertaut dengan kedua matanya. Namun bahkan setelah melakukan itu setiap hari, ditemani daun-daun menguning berguguran hingga butiran salju yang memutihkan kota ini, layar laptop Raia masih saja kosong tanpa cerita.

    Sampai akhirnya dia bertemu seseorang yang mengajarnya melihat kota ini dengan cerita berbeda. Orang yang juga melihat kota ini dengan cara berbeda. Orang yang juga menyimpan rahasia yang tak pernah dia duga.


“Because you're as lost as I am, Raia. And in a city this big, it hurts less when you're not lost alone.” - halaman 96

New York punya pesonanya sendiri. Mungkin itulah hal yang mengakibatkan lebih dari setengah warga New York adalah mereka yang tergolong sebagai pendatang. Konon, banyak orang yang ke New York menggantungkan harapannya di kota ini. Namun mungkin juga tak sedikit dari mereka yang menganggap New York sebagai 'pelarian'. Raia Risjad, sang Penulis best seller pun memilih New York untuk dikunjunginya. Apa yang membuat Raia ke New York? Apa murni karena mengejar inspirasi, atau karena ia butuh tempat sebagi pelarian agar bisa membuatnya lupa akan sang 'Muse' yang sudah memutuskan pergi dari dirinya?

Lalu saat Raia menemani Erin–sahabatnya–menghadiri pesta pergantian tahun di apartemen Aga, Raia pun tak sengaja bertemu seseorang berkaus kaki hijau yang sedang duduk menggambar dengan tenang di sudut ruangan gelap, objek yang digambarnya adalah gedung apartemen di sebelah. Orang yang kemudian ia ketahui sebagai abang dari Aga, yang pada malam itu berhasil mengusik rasa penasaran seorang Raia Risjad.

Siapa yang menyangka Raia kembali dipertemukan dengan orang itu? Central Park menjadi tempat yang mempertemukan mereka. Raia pun akhirnya tahu nama pria itu, River. The coolest name she has ever heard. And the coolest guy she has ever met. River Jusuf, yang ternyata adalah seorang arsitek, salah satu founder Panacea Architects. Pertemuan itu menjadi awal dari semuanya, kebiasaan mereka setiap harinya berkeliling New York, mengunjungi tempat-tempat di mana River bisa menggambar dan Raia (berharap) bisa mendapatkan ide untuk buku barunya.

Kemudian Raia menyadari, bahwa seorang River Jusuf telah sukses membuatnya belajar melihat New York dengan cara berbeda.


“And what the hell  is this I am feeling right now?” - halaman 144


***
“Cinta memang terlalu penting untuk diserahkan pada takdir, tapi segigih apa pun kita memperjuangkan, tidak ada yang bisa melawan takdir” - halaman 270


Yang mengikuti Poll Story The Architecture of Love di Twitter, berarti kalian sudah membaca hampir setengah dari buku ini.

Karya keempat dari Ika Natassa yang saya baca setelah Antologi Rasa, Critical Eleven, dan Twivortiare 2. Saya mengikuti Poll Storynya di Twitter, jadi sangat senang saat tahu River dan Raia akan hadir dalam bentuk buku. Saat tahu bahwa launchingnya di Makassar, tambah senang karena bisa ikut hadir di acara tersebut. Untung UN iselesai 12 Mei, jadi bisa ikutan deh. Acaranya ramai banget! Serius!

Raia ini sebelumnya pernah hadir dalam cerpen Muse karya Ika Natassa dalam Kumpulan 45 Cerpen Cerita Cinta Indonesia yang ditulis oleh 45 penulis. Saya sendiri juga belum baca cerpen Muse ini.

Saat pertama kali mengetahui nama lengkap dari Raia, yaitu Raia Risjad, nama belakang Risjad langsung mengingatkan saya pada Harris Risjad dan Aldebaran Risjad yang tak lain adalah tokoh utama pada Antologi Rasa dan Critical Eleven. Jadi, siapakah Raia ini? Ternyata, Raia adalah sepupu dari Harris dan Ale. Ah, saya sangat senang karena bisa bertemu Harris dan Ale di buku ini! Percayalah pada saya, kalian akan senang bertemu Ale dan Harris di sini! Saya nggak berhenti senyum-senyum saat mereka muncul!

Satu hal yang saya sukai saat membaca buku dengan latar Negara luar, yaitu saya diajak berkeliling ke lokasi-lokasi yang bahkan sebelumnya tak saya ketahui. Asyik, kan? Dengan membaca saja kita bisa keliling dunia. The Architecture of Love memiliki River si Bapak Sungai sebagai Guide Tour yang setia menjelaskan dengan cukup detail dan mengajak kita mengunjungi gedung-gedung dengan arsitektur yang menarik baginya.

Ini pertama kalinya saya membaca buku yang tokohnya adalah seorang penulis. Sebagai seorang pembaca, rasanya jadi cukup dekat dengan Raia, gimana setiap harinya saya selalu memikirkan kapan penulis favorit saya mengeluarkan buku lagi, kenapa buku barunya belum terbit-terbit, apakah penulis itu baca mention/komentar yang saya tinggalkan di media sosial mereka, dan berbagai pertanyaan lainnya. Dan dari Raia saya tahu, seberapa besar perasaan penulis saat mereka melahirkan sebuah buku, seberapa besar perjuangan di baliknya, dan bahwa penulis selalu berusaha membalas cinta dari pembacanya dengan berusaha mengeluarkan buku baru secepat yang mereka bisa.

Lalu bagaimana dengan River? Sosoknya yang misterius dan irit berbicara, bahkan terkesan dingin ini ternyata menyimpan sebuah perasaan bersalah atas kejadian di masa lalu. Ada sesuatu yang menggemaskan menurutku dalam diri River, dia suka popcorn bioskop, tapi tak suka nonton film. River suka popcorn caramel!

Bagian River dan Raia memang cukup sederhana, cukup santai, nggak manis-manis yang berlebihan banget kok. Tapi tetap membuat tersenyum, sayanya juga golongan orang yang mudah baper sih, apalagi jika sudah dihadapkan dengan tokoh-tokoh pria novel Ika Natassa.

Diceritakan dominan dengan sudut pandang orang ketiga, The Architecture of Love menjadi tantangan baru untuk Ika Natassa yang biasanya 'memerankan' para tokohnya dengan sudut pandang orang pertama. Terdapat juga sisipan sudut pandang River dan Raia.

Ada satu bagian, di mana saya tanpa sadar meneteskan air mata, yaitu saat River memutuskan untuk pulang dan bertemu ibunya. Itu bagian kesukaan saya. Juga saat Raia berkomunikasi dengan ibunya melalui telepon saat ia sudah di Indonesia. Tergambarkan dengan jelas bagaimana seorang ibu yang sangat merindukan anaknya, dan yang satunya lagi sangat mengerti akan kondisi anaknya. Saat kau pergi menjauh, yakinilah ada orang-orang yang selalu merindukan sosokmu. Entah itu merindukanmu untuk pulang, atau merindukan sosokmu yang dulu.

Kisah ini ditutup dengan gaya khas Ika Natassa, dan saya nggak berhenti tersenyum saat tiba di halaman terakhir itu.

Secara keseluruhan,  saya menyukai The Architecture of Love, sederhana namun cukup menggetarkan hati, bagaimana kedua tokoh utama berusaha bergerak dari kenangan masa lalu yang sempat membuat mereka terpuruk dan berbagai proses yang telah mereka lalui. Karena masa lalu memang tak bisa dihapuskan, masa lalu punya tempatnya sendiri, yang ada adalah kita harus menjalani masa sekarang dan mempersiapkan diri untuk masa depan.


“Disayangi itu menyenangkan, Riv.” -halaman 175


Pokoknya nggak sia-sia ke acara launching jam 07.30 dan sampai di sana jam 08.00 eh ternyata antriannya udah sampai tangga menuju lantai 5, padahal registrasi dibuka jam 9. Dan akhirnya kebagian! Senangnya!

Book Review : Divortiare & Twivortiare, novels by Ika Natassa


Commitment is a funny thing, you know? It’s almost like getting a tattoo. You think and you think and you think before you get one. And once you get one, it sticks to you hard and deep. – Ika Natassa, Divortiare
Alexandra, 27 tahun, workaholic banker penikmat hidup yang seharusnya punya masa depan cerah. Harusnya. Sampai ia bercerai dan merasa dirinya damaged good. Percaya bahwa kita hanya bisa disakiti oleh orang yang kita cintai, jadi membenci selalu jadi pilihan yang benar. Little did she know that fate has a way of changing just when she doesn’t want it to. – Divortiare
 On January 23rd 2011,  Alexandra – the woman you’ve all known from the book Divortiare – discovered the fun of Twitter through her account @alexandrarheaw. These are the collections of her tweets on her everyday life and not-so private thoughts that will finally answer the question : ‘can you love and hate someone so much at the same time?” – Twivortiare
***
Well, Ika Natassa sudah menjadi penulis favorit saya sejak ia meluncurkan buku pertamanya, A Very Yuppy Wedding (AVYW) years ago. Apabila diminta memilih mana novel favorit Ika, dulu saya pasti akan bilang “Divortiare!”. Namun sejak ‘kelahiran’ Antologi Rasa dan Twivortiare, sejujurnya saya jadi susah untuk memilih. Semua novel Ika, bagus! Saya benar-benar jatuh cintaaa dengan semua novel-novelnya (kecuali Underground, karena saya belum baca, hehehe)
Di postingan kali ini, saya ingin me-review dua novel Ika sekaligus, Divortiare dan Twivortiare. Divortiare rilis pertengahan tahun 2008, dan saya membeli cetakan keduanya di akhir tahun tersebut. Twivortiare sendiri adalah novel-gak-sengaja Ika, yang dibuat dari kumpulan tweets Alexandra Rhea di akun twitter-nya, @alexandrarheaw. Twivortiare baru akan rilis di toko buku pertengahan tahun ini (saya menjadi salah satu yang beruntung mendapatkan first copy Twivortiare yang ditandatangani langsung oleh Ika Natassa!). By the way, sampai sekarang saya beneran masih gak percaya kalo Alexandra itu hanyalah tokoh fiksi! She’s tweeting like in the real world! Salut untuk Ika Natassa yang bener-bener bisa bikin pembacanya larut dalam kisah fiksinya Alex dan Beno!:)
***
Divortiare, bercerita tentang kehidupan Alexandra Rhea pasca bercerai dari suaminya, Beno Wicaksono. Alex yang seorang bankir, menikah dengan Beno yang berprofesi sebagai seorang dokter bedah. Perbedaan usia yang terlampau jauh (Alex 25 tahun, Beno 33 tahun) tidak menyurutkan keinginan mereka untuk menikah. Indahnya menjadi sepasang suami istri mereka rasakan di tahun pertama pernikahan mereka. Memasuki tahun kedua, everything was changed. Masa-masa awal pernikahan yang tadinya indah, menjadi seperti mimpi buruk bagi Alex dan Beno. Ketika itu keduanya sama-sama sedang menjajaki karir masing-masing. Alex sebagai relationship manager di salah satu bank ternama, yang sering travelling untuk urusan pekerjaan dan lembur serta meeting yang terkadang membuatnya pulang malam. Sementara sang suami, Beno Wicaksono, the busiest surgeon doctor yang seringkali pulang larut malam karena mengurus pasien-pasiennya di rumah sakit atau terpaksa bekerja di hari libur karena ada emergency call. Kondisi tersebut lambat laun menjadikan komunikasi di antara mereka berdua semakin berkurang. Sampai akhirnya they’re both lost.

Terlahir sebagai anak tunggal, Alex dan Beno sama-sama memiliki ego yang tinggi dan cenderung keras kepala. Di saat kondisi rumah tangga mereka yang sudah berada di ujung tanduk tersebut, keduanya tetap bertahan pada ego masing-masing, yelled each other, dan saling menyalahkan satu sama lain. Alex menyalahkan Beno karena sebagai suami tidak memiliki waktu untuk dirinya, dan Beno menyalahkan Alex karena tidak bisa mengerti profesinya sebagai seorang dokter. Sampai akhirnya, perceraian menjadi jawaban atas semua permasalahan rumah tangga mereka.
Di buku ini, Ika Natassa mencoba menuturkan bagaimana kondisi Alex, 2 tahun pasca perceraiannya tersebut. Alex yang sudah ‘terlepas’ dari ikatan pernikahan dengan Beno, ternyata tidak bisa benar-benar melepaskan Beno dari pikirannya. Alex juga masih sangat tergantung dengan Beno untuk urusan kesehatannya. Dan.. sebuah tattoo di dada kirinya, yang ia buat ketika bulan madu mereka di Bali selalu mengingatkan Alex tentang masa-masa pernikahannya. Sebuah tattoo bertuliskan nama mantan suaminya, Beno.

Dalam proses ‘move on‘ tersebut, Alex dipertemukan kembali dengan teman lama semasa kuliah, Denny. Pertemuan yang diatur oleh Wina, sahabat dekatnya. Denny pelan-pelan mulai mendekati Alex dan membuat Alex kembali percaya cinta. Sampai akhirnya mereka jadian, dan memutuskan untuk menikah. Denny yang ditawarkan mutasi ke New York oleh kantornya, ‘memaksa’ Alex agar segera meresmikan pernikahan mereka dan ikut pindah ke New York. Namun, pernikahan tersebut tidak benar-benar terjadi. Karena, di satu malam, Alex akhirnya tersadarkan pada satu fakta, bahwa ia tidak pernah berhenti mencintai Beno, mantan suaminya.
Sejujurnya saya kehilangan kata-kata untuk memuji novel kedua Ika ini. Saya benar-benar larut dalam konflik yang ada di dalamnya. Larut dalam cerita Alex dan Beno, their love-hate relationship. Fyi, sebelum saya menulis postingan ini, saya membaca ulang buku tersebut (entah untuk yang ke berapa kalinya), dan berhasil saya ‘lahap’ dalam hitungan jam saja. It means, the story was great! and I’m hooked..

Satu keahlian Ika Natassa adalah dia jago banget bikin cerita yang bisa ‘memainkan’ emosi pembaca. Membuat pembaca bisa merasakan apa yang dirasakan setiap tokoh dalam novel-novelnya. Dan, karakter yang dibuat Ika memang kuat banget, berasa nyata. In this case, saya bisa merasakan pahitnya pernikahan Alex dan Beno di tahun kedua pernikahan mereka. Jadi pengen ikut nangis tiap kali Alex flashback tentang masa-masa itu. Seneng juga ngeliat usaha Denny yang berusaha meluluhkan hati Alex, dan deg-degan gimanaaa gitu waktu pada akhirnya Denny melamar Alex. Dan juga gemesss banget ngeliat Beno yang sebenernya jealous ketika tau Alex akan menikah dengan Denny, tapi sok-sok gengsi dan gak mau mengakui hal itu. Pertemuan Alex, Beno, dan Denny di rumah sakit (waktu ibunya Alex dirawat) itu bikin gregetan!
Seperti novel Ika yang lain, ending novel ini memang rada ‘gantung’, namun cukup dapat menggambarkan kelanjutan kisah Alex dan Beno. Pada suatu malam, akhirnya mereka bertemu kembali. Pertemuan yang biasanya diakhiri keduanya dengan saling membentak dan mengeluarkan kata-kata kasar satu sama lain. Namun tidak di malam itu. Beno, with his signature flat tone, mengakhiri malam tersebut dengan mengajak Alex makan malam di tukang nasi goreng favorit mereka berdua, nasi goreng Jalan Sabang.
***
IMG_0009
And the next bookTwivortiare, buku ini menceritakan kelanjutan cerita Alex dan Beno yang ditulis dengan format Twitter, which is I think this idea is brilliant!
Alex yang diceritakan telah rujuk kembali dengan Beno, nge-tweet kayak orang lain pada umumnya. Soal pekerjaan, the story about her second marriage, and the other story, ia tuang di akun twitternya, @alexandrarheaw. Kepada Wina, sahabatnya, Alex banyak curhat tentang masa-masa pernikahan keduanya dengan Beno yang masih dibumbui dengan pertengkaran antar keduanya.

Banyak hal yang terungkap di buku kelima Ika Natassa ini. Tentang bagaimana Alex dan Beno start dating again, sampai akhirnya memutuskan untuk menikah kembali. Tentang masa-masa dating mereka baik sebelum pernikahan pertama maupun pernikahan kedua. Tentang Beno yang lempeng dan posesif tapi kadang juga bisa romantis dan sweet (kalian harus baca surat cintanya Beno untuk Alexandra, bikin pengen mewek!). And of course, kisah berantem-berantemnya Alex dan Beno, seperti yang dulu terjadi di pernikahan pertama mereka. Namun, seiring waktu, keduanya saling belajar bagaimana menghadapi satu sama lain, sehingga perceraian yang dulu terjadi, (diharapkan) tidak akan terjadi lagi di pernikahan kedua mereka ini.
Menurut saya, di buku ini ada banyak pelajaran yang bisa diambil tentang bagaimana membina rumah tangga. Dua orang yang memiliki perbedaan dan disatukan dalam lembaga pernikahan pastinya butuh waktu lama untuk saling menyesuaikan diri satu sama lain. Proses tersebut hendaknya diiringi pula dengan komunikasi yang baik antara suami dan juga istri. Berusaha memahami pasangan dan tidak saling mempertahankan ego masing-masing adalah hal paling penting dalam hubungan antara suami istri. Membaca Twivortiare seolah membawa kita ikut merasakan bagaimana pahit dan manisnya biduk rumah tangga.

By the way, Alexandra Rhea Wicaksono still tweeting in her account. Menjadi salah satu hobi baru saya membaca timeline twitter Alex. Seakan ‘mengintip’ apa yang terjadi di rumah tangga mereka. Salut sekali saya pada Ika Natassa, yang bisa memainkan peran sebagai Alexandra, dan terkadang bermain peran pula sebagai Beno (with his ‘lempeng’ style) yang sesekali ikut menjawab pertanyaan followers tentang kehidupan keduanya. Seolah mereka berdua bukan sekedar tokoh fiksi.
Two thumbs up for you, Ika Natassa! It’s brilliant! :)

Loving each other was not enough. It didn’t work out until we figure out that we need each other. That heartwarming feeling that I need him and he needs me. That heartwarming comfort of knowing that u are needed. – Alexandra
My patients owe their lives not to me, but to you, because you’re the one who can make me function every single days. – Beno Wicaksono
 

EMI BLOG Template by Ipietoon Cute Blog Design