Commitment is a funny thing, you know?
It’s almost like getting a tattoo. You think and you think and you
think before you get one. And once you get one, it sticks to you hard
and deep. – Ika Natassa, Divortiare
Alexandra, 27 tahun, workaholic banker penikmat hidup yang seharusnya punya masa depan cerah. Harusnya. Sampai ia bercerai dan merasa dirinya damaged good. Percaya bahwa kita hanya bisa disakiti oleh orang yang kita cintai, jadi membenci selalu jadi pilihan yang benar. Little did she know that fate has a way of changing just when she doesn’t want it to. – Divortiare
On January 23rd 2011, Alexandra – the
woman you’ve all known from the book Divortiare – discovered the fun of
Twitter through her account @alexandrarheaw.
These are the collections of her tweets on her everyday life and not-so
private thoughts that will finally answer the question : ‘can you love and hate someone so much at the same time?” – Twivortiare
***
Well, Ika Natassa sudah menjadi penulis favorit saya sejak ia meluncurkan buku pertamanya, A Very Yuppy Wedding (AVYW) years ago. Apabila diminta memilih mana novel favorit Ika, dulu saya pasti akan bilang “Divortiare!”. Namun sejak ‘kelahiran’ Antologi Rasa
dan Twivortiare, sejujurnya saya jadi susah untuk memilih. Semua novel
Ika, bagus! Saya benar-benar jatuh cintaaa dengan semua novel-novelnya
(kecuali Underground, karena saya belum baca, hehehe)
Di postingan kali ini, saya ingin me-review
dua novel Ika sekaligus, Divortiare dan Twivortiare. Divortiare rilis
pertengahan tahun 2008, dan saya membeli cetakan keduanya di akhir tahun
tersebut. Twivortiare sendiri adalah novel-gak-sengaja Ika, yang dibuat
dari kumpulan tweets Alexandra Rhea di akun twitter-nya, @alexandrarheaw. Twivortiare baru akan rilis di toko buku pertengahan tahun ini (saya menjadi salah satu yang beruntung mendapatkan first copy Twivortiare yang ditandatangani langsung oleh Ika Natassa!). By the way,
sampai sekarang saya beneran masih gak percaya kalo Alexandra itu
hanyalah tokoh fiksi! She’s tweeting like in the real world! Salut untuk
Ika Natassa yang bener-bener bisa bikin pembacanya larut dalam kisah
fiksinya Alex dan Beno!
***
Divortiare, bercerita tentang kehidupan
Alexandra Rhea pasca bercerai dari suaminya, Beno Wicaksono. Alex yang
seorang bankir, menikah dengan Beno yang berprofesi sebagai seorang
dokter bedah. Perbedaan usia yang terlampau jauh (Alex 25 tahun, Beno 33
tahun) tidak menyurutkan keinginan mereka untuk menikah. Indahnya
menjadi sepasang suami istri mereka rasakan di tahun pertama pernikahan
mereka. Memasuki tahun kedua, everything was changed. Masa-masa
awal pernikahan yang tadinya indah, menjadi seperti mimpi buruk bagi
Alex dan Beno. Ketika itu keduanya sama-sama sedang menjajaki karir
masing-masing. Alex sebagai relationship manager di salah satu bank ternama, yang sering travelling untuk urusan pekerjaan dan lembur serta meeting yang terkadang membuatnya pulang malam. Sementara sang suami, Beno Wicaksono, the busiest surgeon doctor yang seringkali
pulang larut malam karena mengurus pasien-pasiennya di rumah sakit atau
terpaksa bekerja di hari libur karena ada emergency call. Kondisi tersebut lambat laun menjadikan komunikasi di antara mereka berdua semakin berkurang. Sampai akhirnya they’re both lost.
Terlahir sebagai anak tunggal, Alex dan
Beno sama-sama memiliki ego yang tinggi dan cenderung keras kepala. Di
saat kondisi rumah tangga mereka yang sudah berada di ujung tanduk
tersebut, keduanya tetap bertahan pada ego masing-masing, yelled each other,
dan saling menyalahkan satu sama lain. Alex menyalahkan Beno karena
sebagai suami tidak memiliki waktu untuk dirinya, dan Beno menyalahkan
Alex karena tidak bisa mengerti profesinya sebagai seorang dokter.
Sampai akhirnya, perceraian menjadi jawaban atas semua permasalahan
rumah tangga mereka.
Di buku ini, Ika Natassa mencoba
menuturkan bagaimana kondisi Alex, 2 tahun pasca perceraiannya tersebut.
Alex yang sudah ‘terlepas’ dari ikatan pernikahan dengan Beno, ternyata
tidak bisa benar-benar melepaskan Beno dari pikirannya. Alex juga masih
sangat tergantung dengan Beno untuk urusan kesehatannya. Dan.. sebuah
tattoo di dada kirinya, yang ia buat ketika bulan madu mereka di Bali
selalu mengingatkan Alex tentang masa-masa pernikahannya. Sebuah tattoo
bertuliskan nama mantan suaminya, Beno.
Dalam proses ‘move on‘ tersebut,
Alex dipertemukan kembali dengan teman lama semasa kuliah, Denny.
Pertemuan yang diatur oleh Wina, sahabat dekatnya. Denny pelan-pelan
mulai mendekati Alex dan membuat Alex kembali percaya cinta. Sampai
akhirnya mereka jadian, dan memutuskan untuk menikah. Denny yang
ditawarkan mutasi ke New York oleh kantornya, ‘memaksa’ Alex agar segera
meresmikan pernikahan mereka dan ikut pindah ke New York. Namun,
pernikahan tersebut tidak benar-benar terjadi. Karena, di satu malam,
Alex akhirnya tersadarkan pada satu fakta, bahwa ia tidak pernah
berhenti mencintai Beno, mantan suaminya.
Sejujurnya saya kehilangan kata-kata
untuk memuji novel kedua Ika ini. Saya benar-benar larut dalam konflik
yang ada di dalamnya. Larut dalam cerita Alex dan Beno, their love-hate relationship.
Fyi, sebelum saya menulis postingan ini, saya membaca ulang buku
tersebut (entah untuk yang ke berapa kalinya), dan berhasil saya ‘lahap’
dalam hitungan jam saja. It means, the story was great! and I’m hooked..
Satu keahlian Ika Natassa adalah dia jago
banget bikin cerita yang bisa ‘memainkan’ emosi pembaca. Membuat
pembaca bisa merasakan apa yang dirasakan setiap tokoh dalam
novel-novelnya. Dan, karakter yang dibuat Ika memang kuat banget, berasa
nyata. In this case, saya bisa merasakan pahitnya pernikahan
Alex dan Beno di tahun kedua pernikahan mereka. Jadi pengen ikut nangis
tiap kali Alex flashback tentang masa-masa itu. Seneng juga ngeliat usaha Denny yang berusaha meluluhkan hati Alex, dan deg-degan gimanaaa gitu waktu pada akhirnya Denny melamar Alex. Dan juga gemesss banget ngeliat Beno yang sebenernya jealous
ketika tau Alex akan menikah dengan Denny, tapi sok-sok gengsi dan gak
mau mengakui hal itu. Pertemuan Alex, Beno, dan Denny di rumah sakit
(waktu ibunya Alex dirawat) itu bikin gregetan!
Seperti novel Ika yang lain, ending novel
ini memang rada ‘gantung’, namun cukup dapat menggambarkan kelanjutan
kisah Alex dan Beno. Pada suatu malam, akhirnya mereka bertemu
kembali. Pertemuan yang biasanya diakhiri keduanya dengan saling
membentak dan mengeluarkan kata-kata kasar satu sama lain. Namun tidak
di malam itu. Beno, with his signature flat tone, mengakhiri
malam tersebut dengan mengajak Alex makan malam di tukang nasi goreng
favorit mereka berdua, nasi goreng Jalan Sabang.
***
And the next book, Twivortiare, buku ini menceritakan kelanjutan cerita Alex dan Beno yang ditulis dengan format Twitter, which is I think this idea is brilliant!
Alex yang diceritakan telah rujuk kembali dengan Beno, nge-tweet kayak orang lain pada umumnya. Soal pekerjaan, the story about her second marriage, and the other story, ia tuang di akun twitternya, @alexandrarheaw.
Kepada Wina, sahabatnya, Alex banyak curhat tentang masa-masa
pernikahan keduanya dengan Beno yang masih dibumbui dengan pertengkaran
antar keduanya.
Banyak hal yang terungkap di buku kelima Ika Natassa ini. Tentang bagaimana Alex dan Beno start dating again, sampai akhirnya memutuskan untuk menikah kembali. Tentang masa-masa dating mereka
baik sebelum pernikahan pertama maupun pernikahan kedua. Tentang Beno
yang lempeng dan posesif tapi kadang juga bisa romantis dan sweet (kalian harus baca surat cintanya Beno untuk Alexandra, bikin pengen mewek!). And of course, kisah
berantem-berantemnya Alex dan Beno, seperti yang dulu terjadi di
pernikahan pertama mereka. Namun, seiring waktu, keduanya saling belajar
bagaimana menghadapi satu sama lain, sehingga perceraian yang dulu
terjadi, (diharapkan) tidak akan terjadi lagi di pernikahan kedua mereka
ini.
Menurut saya, di buku ini ada banyak
pelajaran yang bisa diambil tentang bagaimana membina rumah tangga. Dua
orang yang memiliki perbedaan dan disatukan dalam lembaga pernikahan
pastinya butuh waktu lama untuk saling menyesuaikan diri satu sama lain.
Proses tersebut hendaknya diiringi pula dengan komunikasi yang baik
antara suami dan juga istri. Berusaha memahami pasangan dan tidak saling
mempertahankan ego masing-masing adalah hal paling penting dalam
hubungan antara suami istri. Membaca Twivortiare seolah membawa kita
ikut merasakan bagaimana pahit dan manisnya biduk rumah tangga.
By the way, Alexandra Rhea Wicaksono still tweeting in her account. Menjadi salah satu hobi baru saya membaca timeline twitter Alex. Seakan ‘mengintip’ apa yang terjadi di rumah tangga mereka. Salut sekali saya pada Ika Natassa, yang bisa memainkan peran sebagai Alexandra, dan terkadang bermain peran pula sebagai Beno (with his ‘lempeng’ style) yang sesekali ikut menjawab pertanyaan followers tentang kehidupan keduanya. Seolah mereka berdua bukan sekedar tokoh fiksi.
Two thumbs up for you, Ika Natassa! It’s brilliant! :)
Loving each other was not enough. It didn’t work out until we figure out that we need each other. That heartwarming feeling that I need him and he needs me. That heartwarming comfort of knowing that u are needed. – AlexandraMy patients owe their lives not to me, but to you, because you’re the one who can make me function every single days. – Beno Wicaksono


0 komentar:
Posting Komentar